Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Mentari masih enggan menampakkan diri di lereng Merapi. Kabut dan udara dingin pun membekap warga, untuk tetap diperaduan. Namun tidak bagi lima orang anak dari Dusun Gligir Pasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten.
Diawasi oleh orangtua mereka, Purnani (8), Siti Suyahmi (10), Triyani (11), Sri Wahyuni (11) dan Agusno (11), menapaki ratusan tangga menuruni jurang menuju sekolahan.
Berjalan beriring, mereka saling menunggu rekannya yang kadang tertinggal. Meskipun total perjalanan yang mereka tempuh hanya sekitar 3 km, namun alur yang dilalui cukup menantang, apalagi ketika hujan turun. Siswa-siswi SDN 1 Tegalmulyo ini harus jeli memilih langkah.
Gligir Pasang atau biasa disebut Gir Pasang, merupakan sebuah dusun terpencil. Letaknya hanya empat km dari puncak merapi, terpisah dari 'daratan' utama dan bersebelahan dengan Kabupaten Boyolali.
Dihuni 33 jiwa, warga dusun ini mengandalkan pertanian dan beternak, sebagai mata pencaharian utama mereka. Sementara untuk sumberdaya listrik, para warga memanfaatkan panel tenaga surya bantuan dari pemerintah dua tahun silam.
Kondisi tersebut memengaruhi perekonomian warga. Imbasnya, tingkat pendidikan anak-anak Gir Pasang cenderung rendah. Menurut seorang warga Warno Giyanto (40), rerata penduduk di daerahnya hanya mengenyam pendidikan hingga SMP.
Anda sedang membaca artikel tentang
Meniti Tangga Curam Demi Masa Depan
Dengan url
http://jogyamalioboro.blogspot.com/2015/01/meniti-tangga-curam-demi-masa-depan.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
Meniti Tangga Curam Demi Masa Depan
namun jangan lupa untuk meletakkan link
Meniti Tangga Curam Demi Masa Depan
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar