Balai Pelestarian Cagar Budaya Inventarisir Detail Rumah Singgah Bung Karno

Written By Unknown on Jumat, 19 Juli 2013 | 11.22

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tim pendataan dan pendaftaran Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, Kamis (18/7/2013), mulai melakukan pendataan di rumah milik Ir Purbodiningrat di Jalan Patangpuluhan 22 Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui detail fisik bangunan, untuk kemudian dibuat denah serta gambar yang lengkap. Rumah ini konon sempat digunakan Bung Karno dan keluarga untuk bersembunyi dari kejaran pasukan Belanda, pada tahun 1948.

Pada kesempatan ini, salah satu ahli waris dari Purbodiningrat, Siti Ismusilah mengizinkan tim dan para jurnalis masuk ke kamar utama. Kamar ini lah yang dahulu digunakan untuk tempat istirahat Bung Karno bersama sang istri Fatmawati serta dua putranya Guntur Soekarno Putra dan Megawati Soekarno Putri, selama lebih kurang 40 hari menginap.

Satu ranjang kayu yang pernah digunakan Bung Karno masih terawat dengan baik. Sekarang ranjang bersejarah ini dipakai sendiri oleh Siti. Sedangkan ranjang serupa yang juga pernah digunakan presiden pertama Indonesia itu berada di kamar lain, yang berada sebelah barat ruang keluarga.

Dua ranjang tersebut bisa dikatakan dalam kondisi utuh. Tidak ada bekas kerusakan karena telah berusia tua. Kayu jati sebagai penyusun utama ranjang ini masih kokoh dan ulet berdiri. Tak sedikitpun rayap yang menggerogotinya.

"Ranjang ini yang dulu dipakai Bung Karno sama Bu Fatma. Satunya (ranjang lain) yang kemarin saya tunjukkan di kamar sebelah barat," jelas Siti kepada tim BPCB dan para jurnalis.

Seperti yang dikisahkan Siti sebelumnya, kamar utama rumah ini memang luas. Dilengkapi dengan kamar mandi dan toilet terpisah, tidak salah jika Bung Karno memilih kamar ini selama mengungsi dari Gedung Agung. Barang peninggalan berumur tua pun tersimpan rapi di kamar dengan luas sekitar 5x10 meter ini.

Jam dinding lonceng tua masih dipasang meski sudah tidak berfungsi. Selain itu, terlihat ada dua pusaka berupa tombak yang juga peninggalan Purbodiningrat. Pembatas ruang (skesel) dari kayu berukir motif bunga pun menjadi satu barang lain yang ada di kamar itu. Belum dengan meja rias, rak buku, lemari baju, mesin jahit, lampu tempel dan wastafel kuno yang mungkin menjadi saksi bisu pelarian Bung Karno kala itu.

"Saya masih ingat dulu ajudan Bung Karno namanya Pak Tukimin, orangnya gendut, sering nggendong Mas Guntur terus diajak duduk di bawah pohon rambutan situ," tutur Siti mengisahkan sebagian kenangan yang masih diingatnya.

Dahulu rumah ini memiliki total luas lahan mencapai 7.636 meter persegi. Sampai akhirnya saat ini tersisa 4.213 meter persegi setelah sebagian tanah di sebelah utara telah dijual beberapa tahun lalu. Menurut Siti, luasnya rumah ini kisah sang ibu menjadi alasan tersendiri mengapa Bung Karno bersembunyi untuk sementara waktu.

Meskipun dengan pertimbangan keamanan, tak banyak cerita yang diberikan sang ayah kepada anak-anak maupun orang lain. Sebab itu, selain pelaku sejarah langsung, jarang sekali orang tahu mengenai cerita Bung Karno di rumah itu. "Bapak tidak pernah sedikitpun cerita sama anak atau orang lain. Wajar kalau Ngarso Dalem engga tahu cerita ini," tutur Siti.

Guna menglarifikasi atau melakukan validasi dari keterangan ahli waris mengenai tinggalnya Bung Karno di rumah ini, tim pendataan dan pendaftara BPCB berencana akan mencari nara sumber lain. Meskipun diakui akan sangat sulit mencari saksi mata momen tersebut yang masih hidup.

Selain itu, referensi lain dari literatur yang mendukung kisah ini akan terus dikaji mendalam. Termasuk mengenai siapa yang berinisiatif mengungsikan Bung Karno dan keluarga dari Gedung Agung ke rumah bergaya indis ini.

"Belum ada bayangan siapa yang akan diklarifikasi. Biarpun ada saksi mata yang masih hidup mungkin ingatannya sudah berkurang. Bukannya tidak percaya dengan keterangan ahli waris, tapi sumber lain diperlukan untuk validasi," beber sejarawan BPCB Yogyakarta, Himawan Prasetyo, di sela pencatatan data rumah.

Meski demikian, diutarakan jika pintu masuk pertama untuk menggali kisah ini langsung dari pelakunya bisa melalui Sidarto Danusubroto. Seperti diketahui, pria yang kini menjabat Ketua MPR ini memiliki sempat menjadi ajudan kepercayaan Bung Karno. Meskipun hal itu terjadi pada masa akhir periode kepemimpinan, artinya jauh setelah peristiwa 1948.

"Mungkin saja beliau (Sidarto) sebagai ajudan pernah diceritakan mengenai kejadian pelarian ini. Kalau benar tentu akan memudahkan melakukan pelacakan," ungkap Himawan.

Ketua tim pendataan dan pendaftaran, Sri Muryantini Romawati menyatakan, dengan kelengkapan data maka akan memudahkan pihaknya memantau jika terjadi perubahan bentuk bangunan. Sebab, pengusulan menjadi benda cagar budaya (BCB) saat ini tidak bisa dieksekusi. Lantaran belum peraturan pemerintah sebagai petunjuk teknis UU 11 tahun 2010 tentang BCB.

Guna mengantisipasinya, lanjut Sri, pertama pihaknya akan mengusulkan rumah ini menjadi bangunan diduga cagar budaya. Dengan status ini, rumah bersejarah ini akan mendapat perlakukan sama dengan BCB. "Termasuk ranjang yang pernah digunakan Bung Karno, kalau memang valid benar maka akan diusulkan juga menjadi BCB," terangnya. (hdy)


Anda sedang membaca artikel tentang

Balai Pelestarian Cagar Budaya Inventarisir Detail Rumah Singgah Bung Karno

Dengan url

http://jogyamalioboro.blogspot.com/2013/07/balai-pelestarian-cagar-budaya.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Balai Pelestarian Cagar Budaya Inventarisir Detail Rumah Singgah Bung Karno

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Balai Pelestarian Cagar Budaya Inventarisir Detail Rumah Singgah Bung Karno

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger